Subscribe News Feed Subscribe Comments

Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

SANG PEMIMPI


Kerasnya hidup dan kemiskinan tak membuat mereka payah dalam menjalaninya. Justru api yang tersulut dalam jiwa muda para pemimpi ini semakin besar. Semangat demi semangat mereka pupuk untuk mewujudkan cita-cita besar mereka : Berkeliling dunia, menjelajahi Afrika yang eksotis dan Eropa yang megah, hingga bermuara ke altar suci Universitas Sorbonne Paris, Perancis.



Adalah seorang guru bernama Balia yang menjadi sumber inspirasi bagi Ikal, Arai dan Jimbron. Kelas Balia membawa mereka pada keajaiban ilmu pengetahuan dan luasnya kehidupan, tempat yang memberi mereka nafas untuk keluar dari tekanan hidup. Balia membarakan semangat mereka untuk menjelajahi Eropa dan bagian dunia lain untuk mengarungi kehidupan. Namun, pada saat yang sama, mereka harus menghadapi sikap keras Pak Mustar, sang kepala sekolah. Kontras dengan sikap Balia, Pak Mustar adalah seorang guru yang menerapkan cara didik dengan pola hukuman bagi yang lalai.

Problematika yang mereka hadapi tak hanya soal sekolah dan bertahan hidup, tapi juga cinta, satu hal yang tak mungkin mereka hindari di kehidupan remaja. Cinta Arai pada Zakiah Nurmala menggiringnya menjadi seorang penyanyi dadakan dengan berguru pada Bang Zaitun, seorang pemusik Melayu keliling. Jimbron jatuh hati dengan Laksmi, gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum sejak orang tuanya meninggal. Ikal tertarik pada gambar wanita molek dari reklame sebuah film Indonesia di bioskop.

Tetapi, kebimbangan Ikal akan hidup dan masa depan membuatnya patah arang dan berusaha menghapus impiannya bersekolah ke Eropa bersama Arai. Ikal yang dulu seolah memiliki semangat baru, menjadi Ikal yang tenggelam dalam keputusasaan dan menyisakan kekecewaan yang dalam di hati sang ayah yang sangat membanggakan dirinya sejak kecil.

Rasa bersalah terhadap sang ayah membuat Ikal bangkit, dan para pemimpi pun kembali berlari bersama. Satu persatu simpul-simpul kesulitan hidup untuk mencapai mimpi mereka buka. Cita-cita, harapan, dan cinta. Dengan tambahan bekal dari tabungan Jimbron, Ikal dan Arai melanjutkan hidup untuk merajut mimpi. Namun, setelah gelar sarjana diraih, Arai menghilang. Tinggalah Ikal sendirian mengadu nasib sambil mengejar mimpi. Sanggupkah ia meraih mimpinya tanpa kehadiran Arai?

Kali ini Miles Films kembali menyuguhkan sebuah tayangan yang mendidik dan penuh inspirasi. Dalam film yang merupakan kelanjutan dari Box Office Indonesia, Laskar Pelangi ini lebih menyorot kehidupan para pemimpi yang telah tumbuh menjadi remaja-remaja yang tengah mencari jati diri dimana proses penting dalam siklus kehidupan terjadi pada masa ini.

Masih dengan pemeran Ikal kecil yaitu Zulfani, dan Mathias Muchus serta Rieke Dyah Pitaloka sebagai Seman Said Harun (ayah Ikal) dan Ibunda Ikal. Namun, rupanya dalam sekuel ini peran Zulfani hanya muncul di awal dan sesekali di tengah cerita sebagai bayangan masa lalu dari kisah kilas balik yang diceritakan. Miles pun kembali menggandeng artis-artis pendatang baru dan asli Belitung agar penghayatan sebagai anak-anak Belitung dan logat yang kental dalam cerita ini dapat lebih terasa. Mereka adalah Vikri Septiawan, Rendy Ahmad Syaipullah, Azwir Fitrianto, dan Sandy Pranatha yang masing-masing memerankan Ikal remaja, Arai remaja, Jimbron remaja, dan Arai kecil.

Tak hanya itu, Miles juga mengajak tiga orang musisi Indonesia, Nazril Irham alias Ariel "Peterpan" sebagai Arai dewasa, Jay Widjajanto sebagai Bang Zaitun, penyanyi orkes melayu keliling yang lihai soal percintaan, dan Nugie sebagai guru sastra kesayangan para pemimpi, Balia. Zakiah Nurmala, gadis melayu nan cantik yang disukai Arai, diperankan Maudy Ayunda, yang sebelumnya pernah bermain sebagai pemeran utama dalam film Untuk Rena yang juga buah karya Miles Films. Bang Rokib, pelaut melayu yang berpengalaman diperankan oleh Yayu Unru.

Masih dengan Lukman Sardi sebagai Ikal dewasa, namun dialognya tak banyak. Lukman diharuskan bermain lebih dalam gerak tubuhnya.

Sekuel ini tak hanya menyuguhkan kisah drama yang mengharu-biru tetapi juga diselingi banyak adegan dan dialog kocak yang mengundang gelak tawa penonton. Salah satunya adalah saat Ikal menyebutkan kalimat, "Masa muda, masa yang berapi-api, H. Rhoma Irama", dengan mimik wajah polos namun penuh yakin.

Akankah Sang Pemimpi kembali mengulang sukses Laskar Pelangi yang ditonton lebih dari 4 juta penonton? Andrea Hirata pun menyatakan bahwa sekuel arahan sutradara Riri Riza ini tiga kali lebih bagus dari seri pertamanya. Benarkah begitu? Hmm, kita lihat saja nanti ^^ (linda)







Sumber: http://www.21cineplex.com/

Ketika Cinta Bertasbih


Azzam jatuh hati begitu mendengar semua prestasi dan kepribadian Anna.




Cinta adalah kekuatan yang mengubah duri jadi mawar, sedih jadi riang, amarah jadi ramah. Ketika Cinta Bertasbih adalah film tentang cinta. Bukan sekedar percintaan antara sepasang kekasih, tetapi kecintaan anak manusia terhadap Sang Khalik. Mesir, jadi latar cerita cinta Azzam dalam usaha menemukan jodohnya. Azzam (Kholidi Asadil Alam), mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, yang ulet,pekerja keras, serta berbakti kepada keluarga. Sambil menjalankan studinya, Azzam harus banting tulang, dan menguras keringat dengan berjualan tempe dan bakso yang dipasarkan di lingkungan KBRI di Mesir. Semua dilakukan agar bisa melanjutkan hidupnya di Kairo dan menghidupi ibu serta adik-adik perempuannya di Indonesia karena sebagai anak tertua, Azzam harus bertanggungjawab terhadap keluarganya lantaran sang ayah telah meninggal dunia. Lantaran terlalu fokus terhadap wirausaha yang ia tekuni, kuliahnya terhambat selama beberapa tahun. Seringnya dia bergaul di KBRI membuat Azzam mengenal Eliana (Alice Norin), putri semata wayang Duta Besar Indonesia di Mesir. Eliana adalah perempuan modern yang menyelesaikan kuliah di Perancis, kemudian melanjutkan studi S-2 nya di Kairo. Perempuan yang penampilan dan berpikir modern itu sarat segudang prestasi. Karakternya kuat dan bernyali besar menyuarakan isi kepalanya. Azzam pun sempat dibuat kaget dengan sikap blak-blakan dari Eliana. Tetapi, Azzam tersadar Eliana bukanlah perempuan yang pantas mendampinginya. Sampai berita tentang seorang bidadari datang menghampirinya. Perempuan cantik itu bernama, Anna Althafunnisa (Oki Setiana Dewi), putri Kiai Pesantren Daarul Quran yang sangat disegani. Azzam jatuh hati begitu mendengar semua prestasi dan kepribadian Anna lewat seorang rekannya di Kairo. Berangkatlah Azzam menemui Ustad Mujab (Habiburrahman El Shirazy). Kepada Ustad Mujab, Azzam menyampaikan maksudnya mengkhitbah (meminang) Anna. Sayang, Anna ternyata telah dikhitbah terlebih dahulu oleh Furqan, sahabat Azzam sendiri. Selain itu, dikarenakan oleh status sosialnya, Azzam ditolak untuk mengkhitbah perempuan secemerlang Anna. Furqon dikenal karena dengan ketampanannya. Ia pemuda yang pintar, dan selalu berpikiran rasional. Bukan hanya mahasiswi Indonesia saja, mahasiswi Mesir, dan negara lain juga tertarik padanya. Furqan yang orangtuanya sangat kaya di Indonesia itu sedang merampungkan tesisnya. Kehidupan Furqan sangat berbeda juah dengan Azzam yang harus kerja keras demi mencapai cita-citanya dan menghidupi ibu dan adik-adiknya. Furqan jauh diatasnya, hidup bergelimangan sehingga membuatnya lupa dan terlalu berlebihan dalam menggunakan pemberian Allah, sehingga menjadi batu sandungan buat hidupnya kelak. Ia dijebak seorang perempuan sindikat pemeras, yang menjadi awal sejarah terbentuknya virus mematikan, HIV AIDS. Virus mematikan itu membuatnya tak mampu merasakan bahagia ketika lamarannya diterima Anna. Ada juga kisah cinta dua insan Fadhil (Lucky Perdana) dan Tiara (Tika Putri) yang terpisahkan oleh ego dan emosi sesaat, yang menjerumuskan mereka kedalam siksa penyesalan dunia. Ketika Cinta Bertasbih (KCB) adalah film Indonesia pertama yang berhasil syuting di Mesir. Film yang diangkat dari novel bestseller, Ketika Cinta Bertasbih ini juga menandakan kembalinya sutradara besar di tanah air, Chaerul Umam. Sejumlah tempat bersejarah di Mesir, seperti Al Azhar University, kampus tertua di dunia, Benteng Qaitbay di Alexandria, Taman El Montaza, berlatar istana Raja Farouq, serta sejumlah mesjid tertua di belahan bumi Afrika, menjadi latar indah yang memesona.

Di tengah gempuran film-film horor dan komedi seks, Ketika Cinta Bertasbih menghadirkan kesejukan di jagad perfilman Indonesia.


Sumber: vivanews.com

 
TNB | Distributed by Deluxe Templates